Pages

Subscribe:

Tafakur songs


Rabu, 02 Maret 2011

Sastra dan Pahlawan


Toto Sudarto Bachtiar pada bulan November 1955 menulis sebuah puisi terkenal dengan judul “Pahlawan Tak Dikenal”. Toto menuliskan puisi itu sebagai rekaman dari perenungan dan pengentalan selama 10 tahun ketika ikut dalam perjuangan kemerdekaan 1945. Toto mengisahkan: Sepuluh tahun yang lalu dia terbaring / Tetapi bukan tidur, sayang / Sebuah lubang peluru bundar di dadanya / Senyum bekunya mau berkata, kita sedang perang. Puisi ini menjadi memori kolektif karena kerap hadir di buku teks pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia atau jadi teks untuk lomba baca puisi. Puisi “Pahlawan Tak Dikenal” merepresentasikan narasi empati terhadap lakon hidup pahlawan.
Djawastin Hasugian pada tahun 1965 menuliskan sebuah puisi yang mengacu pada peristiwa 10 November 1945. Penyair dengan kalem mengenangkan peristiwa pertempuran rakyat Indonesia dengan pasukan Sekutu di Surabaya. Kenangan berulang atas perjuangan dan kematian pahlawan dituliskan oleh penyair: Hari ini kami kembali mengenangmu seperti juga / tahun-tahun yang lalu / Tertengadah kami memandang kemboja yang / semakin tua di atas kuburanmu / Mengheningkan cipta dengan air mata atas / kehadiran dan ketiadaanmu / Ketika bumi rakyat tercinta ini ditindas dan kau / bangkit melepas nyawa. Puisi ini dramatis dan sugestif.
Puisi Toto Sudarto Bachtiar dan Djawastin Hasugian itu jadi representasi kecil perhatian pengarang sastra Indonesia modern terhadap tema pahlawan. Puisi-puisi dengan tema pahlawan memang membuka kemungkinan keterlibatan empati dan simpati pembaca untuk masuk dalam narasi sejarah dan pengalaman tokoh. Konstruksi puisi pun sanggup mengantarkan pembaca pada pengetahuan pahlawan dalam kolaborasi fakta-fiksi.
***
Teks-teks novel Indonesia modern dengan tema pahlawan terhitung dalam jumlah sedikit dan kurang dalam pembicaraan (esai, kritik, atau penelitian sastra). Beberapa novel yang mengisahkan tokoh pahlawan: Surapati (Abdul Muis), Surabaya (Idrus), Jejak Kaki Wolter Monginsidi, (S. Sinansari Ecip), Kuantar ke Gerbang (Ramadhan KH), Cut Nya Dien (Ragil Soewarno Pragolapati), Cermin Kaca Soekarno (Mayon Sutrisno), dan lain-lain. Pengisahan pahlawan dalam bentuk novel memang kurang populer bagi publik pembaca. Publik cenderung mengenali pahlawan melalui medium buku teks pelajaran, buku sejarah, buku biografi, buku memoar, esai, artikel, atau film.
H.B. Jassin sebagai dokumentator dan kritikus penting dalam kesusastraan Indonesia modern memberi perhatian atas kehadiran novel biografi Cermin Kaca Soekarno. Novel Mayon Sutrisno itu dinilai H.B. Jassin cukup berhasil mengisahkan kehidupan Soekarno dalam struktur novel. H.B. Jassin (1984) dengan sugestif mengungkapkan: “Generasi muda kita, generasi penerus, perlu membaca buku ini. Buku ini merupakan pelajaran sejarah dalam bentuk roman.” Anjuran H.B. Jassin kentara memakai tendensi pembelajaran sejarah melalui sastra bakal mengantarkan public pembaca pada keterlibatan interpretasi secara intensif.
Pemilihan bentuk novel untuk mengisahkan kehidupan tokoh pahlawan memiliki aksentuasi pada kekuatan narasi literer. Pengarang mengolah bahan atau sumber dengan struktur dan bahasa dalam pergulatan fakta-fiksi. Unsur-unsur tokoh, peristiwa, latar waktu dan tempat, konflik sebagai konstruksi teks novel mengandung tegangan dalam pengisahan historis dan imajinatif. Novel memiliki ruang gerak bebas untuk menarasikan dan menghidupkan fakta. Narasi itu tentu membuat ketokohan pahlawan menjadi manusiwai dan familiar untuk mendapatkan interpretasi dari publik pembaca.
***
Eksplorasi tema pahlawan pun bisa memakai bentuk puisi dengan struktur dan konvensi berbeda dari novel. Puisi-puisi dengan tematis pahlawan juga tercatat dalam jumlah kecil dibandingkan dengan tematis-tematis lain. Puisi terkenal Chairil Anwar dengan berjudul “Diponegoro” (1943) adalah puisi terkenal dan kerap menjadi acuan dalam pembicaraan sastra dan tema nasionalisme.
Puisi Chairil Anwar itu tidak untuh mengisahkan biografi Diponegoro. Ketokohan dan heroisme Diponegoro diungkapkan Chairil Anwar dengan maksud untuk memberi semangat dalam menjalani revolusi Indonesia. Heroisme Diponegoro diungkapkan Chairil Anwar dalam bait mumpuni: Di depan sekali tuan menanti / Tak gentar. Lawan banyaknya seratus kali. / Pedang di kanan, keris di kiri / Berselempang semangat yang tak bisa mati. Ungkapan terkenal Chairil Anwar yang terus dikenang dalam puisi itu adalah: Sekali berarti / Sudah itu mati.
Subagio Sastrowardoyo pun fasih mengisahkan pahlawan Monginsidi. dalam puisi “Monginsidi”. Puisi itu dengan memakai bentuk aku lirik mengajak pembaca merasakan heroisme Monginsidi yang mati pada usia muda. Monginsidi dikisahkan sebagai seorang pemuda yang hidup dengan lakon dramatis sebagai pemimpin gerilya melawan kolonilal. Monginsidi menemui ajal dengan ikhlas. Kisah penangkapan dan kematian Monginsidi terasa herois dalam bait ini: Aku adalah dia yang terperangkap siasat musuh karena / pengkhianatan / Aku adalah dia yang digiring sebagai hewan di muka regu / eksekusi / Aku adalah dia yang berteriak ‘merdeka’ sebelum ditembak / mati.
Saini K.M. pada tahun 1993 menulis sebuah puisi dengan judul “Dewi Sartika”. Puisi ini mengungkapkan ketokohan Dewi Sartika sebagai sosok perempuan revolusioner dalam kontribusinya terhadap konstruksi kemerdekaan bangsa Indonesia. Saini menuturkan dalam pembahasaan metaforis dan bentuk liris. Dewi Sartika dituturkan dengan metafora feminis yang hidup: Kuntum yang berkembang dalam sepi / Di pinggir jalan tempat sejarah lewat / Akankah ia hanya menyebar wangi / Pada angin lalu, pada masa lalu semata? Puisi Saini K.M. terasa tidak mendikte atau menggurui pembaca mengenai nilai-nilai perjuangan sosok pahlawan perempuan tapi membuka narasi-narasi inspiratif.
Perhatian terhadap tematis pahlawan pun ditunjukkan oleh Jose Rizal Manua dalam puisi “Pahlawan itu Adalah Ibuku” (2004). Jose menonjolkan sosok-sosok pahlawan perempuan: Kartini, Dewi Sartika, Cristina Marta Tiahahu, dan Cut Nya Dien. Penyair mengajak pembaca mengenang kembali kisah sejarah tokoh dan relevansi dengan realitas Indonesia mutakhir. Jose menulis: Sejarah punya cerita / tentang Kartini dan Dewi Sartika / tentang Christina Marta Tiahahu / dan Cut Nyak Dien. Sejarah panjang pembentukan bangsa Indonesia dengan kontribusi pahlawan-pahlawan perempuan itu memunculkan pencerahan-pencerahan besar: terhadap kesadaran peran (emansipasi perempuan) dalam pelbagai sisi kehidupan dan kesadaran nasionalisme. Pahlawan-pahlawan perempuan itu inspiratif.
Elaborasi terhadap pahlawan perempuan dikisahkan dengan apik oleh M.H. Skelely Lulofs dalam novel-biografis Degeschiedenis van een Atjehse vorstin (1948). Buku ini terbit dalam terjemahan Indonesia dengan judul Cut Nyak Din: Kisah Ratu Aceh (2007). Lulofs dengan narasi mumpuni mengisahkan Cut Nyak Din sebagai subjek penting dalam perjalanan sejarah Indonesia melalui lakon kolonialisme. Cut NyaK Din adalah sosok pahlawan fenomenal dalam menentukan garis perjuangan-heroisme dan kesadaran atas risiko sakit dan kematian.
***
Soekarno mengatakan: “Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai pahlawannya.” Ungkapan patut jadi acuan untuk menumbuhkan kesadaran sejarah dan apresiasi terhadap kontribusi pahlawan dalam konstruksi Indonesia. Pengenalan dan pengetahuan terhadap pahlawan itu jadi terasa hidup dengan medium sastra. Prosa dan puisi memberi ruang interpretasi inklusif dan pluralistik untuk membaca dan menilai pahlawan dengan acuan fakta historis dan sentuhan fiksi-imajinasi. Begitu.
*) Peneliti Kabut Institut (Solo)

Ajaran Cinta Sejati Jalaluddin ar-Rumi

Ia berkata, "Siapa itu berada di pintu?"
Aku berkata, "Hamba sahaya, Paduka."
Ia berkata, "Mengapa kau ke mari?"
Aku berkata, "Untuk menyampaikan hormat padamu, Gusti."
Ia berkata, "Berapa lama kau bisa bertahan?"
Aku berkata, "Sampai ada panggilan."
Aku pun menyatakan cinta, aku mengambil sumpah
Bahwa, demi cinta aku telah kehilangan kekuasaan.
Ia berkata, "Hakim menuntut saksi kalau ada pernyataan."
Aku berkata, "Air mata adalah saksiku, pucatnya wajahku adalah buktiku."
Ia berkata, "Saksi tidak sah, matamu juling."
Aku berkata, "Karena wibawa keadilanmu, mataku terbebas dari dosa." 


Bait-bait syair bernuansa religius di atas adalah nukilan dari salah satu puisi karya Jalaluddin ar-Rumi, penyair sufi terbesar dari Persia. Kebesaran Rumi terletak pada kedalaman ilmu dan kemampuan mengungkapkan perasaannya ke dalam bahasa yang indah. Karena kedalaman ilmunya itu, puisi-puisi Rumi juga dikenal mempunyai kedalaman makna. Dua hal itulah --kedalaman makna dan keindahan bahasa--yang menyebabkan puisi-puisi Rumi sulit tertandingi oleh penyair sufi sebelum atau sesudahnya.
Di kalangan para pecinta sastra tasawuf, nama Jalaluddin ar-Rumi tidak asing lagi. Karya-karyanya tidak hanya diminati oleh masyarkat Muslim, tetapi juga masyarakat Barat. Karena itu, tak mengherankan jika karya sang penyair sufi dari Persia (Iran) yang bernama lengkap Jalaluddin Muhammad bin Muhammad al-Balkhi al-Qunuwi ini berpengaruh besar terhadap perkembangan ajaran tasawuf sesudahnya.

Rumi dilahirkan di Kota Balkh, Afghanistan, pada 30 September 1207 M/604 H dan wafat di Kota Konya, Turki, pada 17 Desember 1273 M/672 H. Sejak kecil, ar-Rumi dan orang tuanya terbiasa hidup berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain. Keluarganya pernah tinggal di Nisabur (Iran timur laut), Baghdad, Makkah, Malatya (Turki), Laranda (Iran tenggara), dan Konya. Meski hidup berpindah-pindah, sebagian besar hidup ar-Rumi dihabiskan di Konya yang dahulu dikenal sebagai daerah Rum (Roma).

Rumi memang bukan sekadar penyair, tetapi ia juga tokoh sufi yang berpengaruh pada zamannya. Rumi adalah guru nomor satu Tarekat Maulawiah--sebuah tarekat yang berpusat di Turki dan berkembang di daerah sekitarnya. Tarekat Maulawiah pernah berpengaruh besar dalam lingkungan Istana Turki Utsmani dan kalangan seniman sekitar tahun l648. Sebagai tokoh sufi, Rumi sangat menentang pendewaan akal dan indra dalam menentukan kebenaran. Pada zamannya, umat Islam memang sedang dilanda penyakit itu.

Cinta untuk Tuhan
Ar-Rumi dikenal karena kedalaman ilmu yang dimilikinya serta kemampuan dalam mengungkapkan perasaannya dalam bentuk puisi yang sangat indah dan memiliki makna mistis yang sangat dalam. Ia memilih puisi sebagai salah satu medium untuk mengajarkan cinta sejati (Tuhan). Lirik-lirik puisinya banyak mengedepankan perasaan cinta yang dalam kepada Tuhan. Maka itu, tak mengherankan jika ia mengungguli banyak penyair sufi, baik sebelum maupun sesudahnya.

Karya-karya puisi ar-Rumi juga mengandung filsafat dan gambaran tentang inti tasawuf yang dianutnya. Tasawufnya didasarkan pada paham wahdah al-wujud (penyatuan wujud). Bagi ar-Rumi, Tuhan adalah wujud yang meliputi. Keyakinan ini tidak selalu merupakan keyakinan terhadap kesatuan wujud yang menyatakan bahwa segala seuatu itu adalah Allah atau Allah adalah segala sesuatu. Kesatuan hamba dengan Tuhan, dalam tasawuf ar-Rumi, dipatrikan oleh rasa cinta yang murni.

Pengetahuan mengenai ajaran tasawuf tidak ia pelajari sejak usia dini. Masa kecilnya justru lebih banyak dipergunakan Jalaluddin ar-Rumi untuk menimba ilmu agama, terutama terkait dengan hukum Islam. Pendidikan pertama ar-Rumi diperolehnya dari ayahnya sendiri, Bahauddin Walad Muhammad bin Husin, yang merupakan seorang tokoh dan ahli agama Islam penganut Mazhab Hanafi. Selain itu, ia juga belajar pada Burhanuddin Muhaqqiq at-Turmuzi, seorang tokoh dan sahabat ayahnya. Atas saran gurunya ini, ia kemudian menimba ilmu pengetahuan di negeri Syam (Suriah).

Dengan pengetahuan agama yang luas, ar-Rumi dipercaya untuk menggantikan Burhanuddin sebagai guru di Konya setelah sang guru wafat. Di samping sebagai guru, ia juga menjadi dai dan ahli hukum Islam (fakih).

Perubahan besar dalam hidup ar-Rumi terjadi pada tahun 652 H. Di usianya yang menginjak 48 tahun, ia mengubah jalan hidupnya ke arah kehidupan sufi setelah bertemu dengan seorang penyair sufi pengelana, Syamsuddin at-Tabrizi. Ia sangat terpengaruh oleh ajaran sufi itu sehingga ia meninggalkan pekerjaannya sebagai guru dan mulai menggubah puisi serta memasuki kehidupan sufi.

Rumi telah menjadi sufi berkat pergaulannya dengan Tabriz. Kesedihannya berpisah dan kerinduannya untuk berjumpa lagi dengan gurunya itu telah ikut berperan mengembangkan emosinya sehingga ia menjadi penyair yang sulit ditandingi. Guna mengenang dan menyanjung gurunya itu, Rumi menulis syair-syair yang himpunannya kemudian dikenal dengan nama Divan Syams Tabriz . Ia juga membukukan wejangan-wejangan gurunya itu yang dikenal dengan nama Diwan Syams Tabriz . Buku ini juga memuat inti ajaran tasawuf ar-Rumi.

Di samping termuat dalam Diwan Syams Tabriz , inti ajaran tasawuf ar-Rumi juga banyak dimuat dalam sebuah karya besarnya yang terkenal, al-Masnawi . Buku ini terdiri atas enam jilid dan berisi 20.700 bait syair. Karyanya ini berpengaruh besar terhadap perkembangan tasawuf sesudahnya. Banyak komentar terhadap buku ini yang ditulis oleh para ahli dalam berbagai bahasa, seperti Persia, Turki, dan Arab.

Al-Masnawi telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa. Pertama kali, buku ini diterjemahkan ke bahasa Jerman pada tahun 1849. Namun, yang diterjemahkan hanya sepertiga bagian dari keseluruhan isi Al-Masnawi . Hasil terjemahan dalam bahasa Jerman ini diterbitkan di Kota Leipzig dan mengalami cetak ulang pada tahun 1913.

Sementara itu, terjemahan dalam bahasa Inggris oleh Sir James Redhouse pertama kali diterbitkan pada tahun 1881. Kemudian, sebanyak 3.500 baris puisi pilihan dari Al-Masnawi diterjemahkan lagi oleh Whinfield ke dalam bahasa Inggris. Terjemahan puisi pilihan yang terbit di London tahun 1887 ini mendapat perhatian besar dari masyarakat sehingga tahun itu juga dicetak ulang. Volume kedua diterjemahkan oleh Wilson dan diterbitkan di London tahun 1910.

Baru pada tahun 1925 hingga 1950, proses penerjemahan buku Al-Masnawi dilakukan secara menyeluruh oleh Reynold Alleyne Nicholson. Selain menerjemahkan buku ini, Nicholson juga menambahkan uraian serta komentarnya untuk melengkapi terjemahannya. Langkah Nicholson yang menerjemahkan karya ar-Rumi ini diikuti oleh salah seorang muridnya, AJ Arberry, yang menerjemahkan sejumlah kisah pilihan yang diterbitkan di London pada 1961.

Teori kefanaan
Di samping sebagai penyair sufi yang menganut paham wahdad al-wujud , ar-Rumi juga merupakan peletak dasar teori kefanaan. Pendapatnya tentang kefanaan tergambar dari ungkapannya, ''Apakah arti ilmu tauhid? Hendaklah kau bakar dirimu di hadapan Yang Maha Esa. Seandainya kau ingin cemerlang sebagai siang hari, bakarlah eksistensimu (yang gelap) seperti malam; dan luluhkan wujudmu dalam Wujud Pemelihara Wujud, seperti luluhnya tembaga dalam adonannya. Dengan begitu, kau bisa mengendalikan genggamanmu atas 'Aku' dan 'Kita', di mana semua kehancuran ini tidak lain timbul dari dualisme.''

Sementara itu, suasana pada saat sedang fana digambarkan oleh ar-Rumi sebagai berikut. ''Nuh berkata kepada bangsanya, Aku bukanlah aku. Aku bukanlah tiada lain Tuhan itu sendiri. Apabila ke-aku-an lenyap dari identitas insan, tinggallah Tuhan yang bicara, mendengar, dan memahami. Apabila Aku bukanlah aku, adalah aku tiupan napas Tuhan. Adalah dosa melihat kesatuan aku dengan-Nya.''

Dalam pandangannya, setiap peristiwa kefanaan selalu diikuti oleh baqa , yaitu tetapnya kesadaran sufi kepada Tuhan. Pada saat sedang baqa , kesadaran akan Tuhan melandasi kesadaran seorang hamba. Kata ar-Rumi, ''Kesadaran Tuhan lebur dalam kesadaran sufi. Bagaimana si awam meyakininya. Pengetahuan sufi adalah garis dan pengetahuan Tuhan adalah titik. Eksistensi garis amat tergantung pada eksistensi titik.'' sya/dia/berbagai sumber


Tarian berputar sang sufi
Selain dikenal sebagai seorang penyair sufi, Jalaluddin ar-Rumi juga merupakan pendiri Tarekat Maulawiah atau Jalaliah. Tarekat ini ia kembangkan bersama sahabatnya, Syekh Hisamuddin Hasan bin Muhammad.

Tarekat Maulawiyah atau Jalaliah adalah sebuah tarekat sufi yang terkenal dan banyak dianut di Turki dan Suriah. Di Barat, tarekat ini dikenal dengan nama The Whirling Dervishes (para darwis yang berputar-putar). Nama itu muncul karena para penganut tarekat ini melakukan tarian berputar-putar yang diiringi oleh gendang dan suling dalam zikir mereka untuk mencapai ekstase .

Menurut sebuah riwayat, tarian yang dilakukan oleh Ar-Rumi dilakukan tanpa kesengajaan. Tarian itu justru dilakukannya ketika dirinya merasa sedih sepeninggal gurunya, Syamsuddin Tabriz, yang dibunuh oleh warga Konya. Rumi benar-benar merasakan kehilangan sang panutan, laksana kehidupan tanpa sinar matahari. Hingga pada suatu hari, seorang pandai besi yang bernama Shalahuddin membuat Rumi menari-nari berputar-putar sambil melantunkan syair-syair puitis akan kecintaannya kepada Tuhan dan gurunya.

Dari sinilah, Jalaluddin Ar-Rumi menjalin persahabatan dengan Shalahuddin untuk menggantikan kedudukan sang guru. Bersama Shalahuddin yang memukul gendang, Rumi pun menari dan menari untuk mengungkapkan penghambaan dirinya dalam menghibur dan mendekatkan diri pada Tuhan.

Sampai meninggalnya, 17 Desember 1273, Rumi tak pernah berhenti menari kerana dia tak pernah berhenti mencintai Allah. Tarian itu juga yang membuat peringkatnya dalam inisiasi sufi berubah dari yang mencintai jadi yang dicintai. Bagian hanya Allah yang layak untuk dicintai.

Dari caranya menemukan hakikat cinta untuk Tuhan, Kota Konya yang sempat sepi menjadi ramai kembali berkat tarian-tarian cinta yang berputar untuk Tuhan. Bahkan, banyak pengikut-pengikutnya di berbagai negara di dunia melakukan hal yang sama sebagai bentuk kecintaan kepada sang guru dalam menemukan Tuhan.

Suatu hari, Rumi pernah berkata kepada anaknya, Sultan Walad, bahwa Kota Konya akan menjadi semarak. ''Akan tiba saatnya, ketika Konya menjadi semarak dan makam kita tegak di jantung kota. Gelombang demi gelombang khalayak menjenguk mousoleum kita, menggemakan ucapan-ucapan kita.''

Kini, perkataan Rumi itu terbukti. Setelah sekian lama terlelap oleh sejarah, Kota Konya hidup kembali berkat sang sufi. ''Kota Anatolia Tengah ini tetap berdiri sebagai saksi kebenaran ucapan Rumi,'' tulis Talat Said Halman, peneliti karya-karya mistik Rumi.

Kenyataannya memang demikian. Lebih dari tujuh abad, Rumi bak bayangan yang abadi mengawal Konya, terutama kepada pengikutnya, the whirling dervishes , para darwis yang menari. Setiap tahun, pada 2-17 Desember, jutaan peziarah menyemut menuju Konya. Dari delapan penjuru angin, mereka berarak untuk memperingati kematian Rumi, 727 tahun silam.

Siapakah sesungguhnya manusia yang telah menegakkan sebuah pilar di tengah khazanah keagamaan Islam dan silang sengketa paham? ''Dialah penyair mistik terbesar sepanjang zaman,'' kata orientalis Inggris, Reynold A Nicholson. ''Ia bukan nabi, tetapi ia mampu menulis kitab suci,'' seru Jami, penyair Persia Klasik, tentang karya Rumi, Al-Masnawi .

Bahkan, cucu ar-Rumi, Sulthanul Auliya Maulana Syekh Nazhim Adil al-Haqqani, kagum dengan kakeknya tersebut. Ia berkata sebagai berikut. ''Dia adalah orang yang tidak mempunyai ketiadaan. Saya mencintainya dan saya mengaguminya, saya memilih jalannya, dan saya memalingkan muka ke jalannya. Setiap orang mempunyai kekasih, dialah kekasih saya, kekasih yang abadi. Dia adalah orang yang saya cintai, dia begitu indah. Oh , dia adalah yang paling sempurna.

Orang-orang yang mencintainya adalah para pecinta yang tidak pernah sekarat. Dia adalah dia dan dia dan mereka adalah dia. Ini adalah sebuah rahasia, jika kalian mempunyai cinta, kalian akan memahaminya.''Itulah Jalaluddin a-Rumi, sang sufi penganut cinta sejati untuk Tuhannya.

Sumber : Republika Newsroom

Selasa, 01 Maret 2011

Lagu untuk nurdin kembali dikumandangkan oleh RONSET ft LEEMING


Disaat seluruh warga Indonesia ribut dan demo untuk menurunkan Nurdin,banyak video-video yang beredar untuk menurunkan nurdin dan Seorang rapper dan band kembali membuat sensasi dengan lagunya STATUTA yang mengapreisiasikan sebuah lagu tentang Nurdin & PSSI. mungkin dengan lagu itu mereka bisa membuat seorang nurdin untuk turun dari kursi kepemimpinan PSSI.
Sebuah lagu itu di bawakan oleh Rapper Ronset dengan sebuah band legenda sukabumi yaitu Leeming dengan mengusung STATUTA yang sering menjadi dalih PSSI terhadap warga indonesia.


Video


download juga lagunya
RONSET - STATUTA (Lagu Nurdin Halid & PSSI)

Hei.. hei.. Nurdin dengarkan.. 2x
Nurdin dengarkan jangan pernah Halid biarkan

Ini lagu cinta tentang aspirasi kita 
Cinta PSSI yang penuh dengan air mata
Kau tak perlu berkata ku butuh bukti nyata
Ku ingin kau buka mata bukan pake STATUTA

Stauta.. statuta.. setau'ku kau buta2x
Setau'ku kau buta omongan gak pernah nyata

reff: PSSI ku sayang jangan pernah menangis
Usap air matamu dan peluklah aku
Aku tak pernah ragu untuk slalu menanti
Aku masih di sini dan lihatlah aku

Hei.. hei.. Nurdin lihatlah.. 2x
Nurdin lihatlah jangan pernah engkau berkilah

Engkau tak pernah kalah atau merasa salah
Pssi milik bangsa telah di buat lelah
Kau tak mau mengalah ku ingin engkau menyerah
Tak puaskah kau melihat bangsa terpecah belah
Oh Tuhan oh my God you can't see and i know that,
Politisasi koruPSSI kolusi udah basi
Tampang emang berdasi ngomong lo bau terasi
PSSI gak berprestasi kerja cuma basa basi.. (Iya benar)

Si.. si.. silahkan mundur 2x
Silahkan mundur jangan pernah obral STATUTA
Ta.. ta.. tak tau malu 2x
Tak tau malu atau gak punya kemaluan..

reff: PSSI ku sayang jangan pernah kau malu
Kau tetap garudaku garuda pertiwi
Putra putri pertiwi ingin dia berlalu
jangan pernah kau ragu biarkan berlalu...

Arifin panigoro juga Jendral Toisuta
Nasibmu gax beruntung ku ingin kau tetap bertarung
Aku juga bingung kita semua jadi linglung
Carut marut PSSI seakan tak pernah berujung..

Jung.. jung.. jungkirkn Nurdin 2x
Yoo.. jungkirkn Nurdin Revolusi dan Reformasi PSSI

Senin, 28 Februari 2011

Purnama Dibalik Cadar





Cerita Pendek Ahmadun Y Herfanda
Aku seperti melihat cahaya di balik cadar. Cahaya yang begitu kuat, menembus kain hijau lumut penutup wajah gadis semampai itu. Karena kuatnya, kadang-kadang cahaya itu menelan cadar sang gadis dan menyembullah bulatan bercahaya benderang bagai purnama menyelubungi kepalanya.
Hari itu, gadis bercadar tersebut berada di tengah diskusi tentang emansipasi wanita di Ibnu Sina Auditorium, Universitas Al Azhar, Kairo. Sejak memasuki ruang diskusi, ia sudah memancarkan pesona tersendiri. Ia tampak tinggi semampai, jauh lebih tinggi dari rombongan gadis-gadis berjilbab yang masuk bersamanya. Cara jalannya juga gemulai, dengan sepatu berhak tinggi yang kadang-kadang menyembul di bawah jubah hijaunya.
''Dia Salma Audina, dari Bandung,'' kata kawan di sebelahku, seorang mahasiswa Al Azhar, tahu aku memperhatikan gadis itu.
''Apa dia aktifis Ihwanul Muslimin, Darul Arqam, Mujahidin, atau kelompok garis keras lain,'' tanyaku.
''Kabarnya memang aktifis, tapi tidak jelas dari kelompok mana. Dia kuliah S-2 di filsafat Al Azhar. Baru sebulan di sini.''
''Tapi kenapa pakai cadar? Anak-anak filsafat biasanya liberal.''
''Aku pernah tanyakan itu padanya. Dia bilang, itu cara dia melindungi dirinya dari tatapan mata lapar laki-laki.''
Melihat matanya yang mempesona, dengan bulu-bulu mata yang lentik, kubayangkan wajah gadis itu sangat cantik. Tapi, bagaimana jika bibirnya sumbing, atau pipinya bertembong? Ah, apa peduliku. Aku memang sedang mencari calon istri, karena sudah terlalu lama membujang. Kuliah pasca-sarjanaku sudah selesai, dan gajiku sebagai kabag pendidikan KBRI sudah cukup untuk hidup berumah tangga di Kairo. Tapi, mengapa aku mesti repot menebak-nebak wajah di balik cadar itu? Mahasiswi Indonesia yang cantik, dan tidak bercadar, cukup banyak di Kairo.
Ketika aku masih sibuk dengan pikiranku sendiri, tiba-tiba nama Salma disebut oleh moderator sebagai salah seorang penanya yang dipersilakan maju ke depan. Benar, gadis bercadar itu dengan cekatan berdiri dan melangkah ke depan. Dan, masya Allah , suaranya merdu sekali, tapi tetap tangkas menyusun pemikiran-pemikirannya dalam kalimat-kalimat yang jelas. Dan, ternyata pemikiran-pemikirannya sangat liberal, khas anak filsafat. Ia gugat sistem poligami, yang secara abadi menempatkan perempuan sebagai pelengkap laki-laki. Ia gugat kultur Islam yang masih menempatkan laki-laki sebagai pusat kekuasaan. Ia sebut contoh-contoh kaum perempuan yang menjadi korban laki-laki. Ia sebut Perempuan di Titik Nol Nawal El Sadawi, ia sebut Kartini, ia sebut pula Rabiah al Adawiyah yang tak sudi dijajah laki-laki dan lebih memilih menyerahkan seluruh cintanya pada Tuhan.
Saat itulah aku mulai melihat ada purnama di balik cadarnya. Cahaya itu mula-mula samar-samar, lama-lama makin jelas, seirama tekanan-tekanan pemikirannya, dan akhirnya menyelubungi seluruh kepalanya. 'Ah, mungkin aura kecerdasannya begitu kuat, sehingga muncul sepenuhnya saat berbicara,' pikirku.
''Aku melihat purnama di balik cadarmu,'' kataku seusai diskusi, setelah menghampirinya di lobi auditorium.
Gadis semampai itu tidak menjawab. Hanya mata indahnya menatapku, melempar sejuta pertanyaan. Tapi, aku yakin, perempuan cerdas itu bisa meraba maksudku.
Suatu pagi, aku bertemu lagi dengan gadis bercadar itu. Kulihat dia sedang mancari-cari buku pada rak buku filsafat perpustakaan kampus. Dan, memang ke rak itu pula tujuanku.
''Hai, gadis yang punya purnama,'' tegurku.
''Hai, Pak Imran,'' Dia tampak agak terkejut. Tapi, aku bersyukur, dia ingat namaku.
''Sedang cari buku apa?''
''Buku Annemarie Schimmer. Aku suka baca buku-buku tasawuf.''. ''Bagus itu.''
Kami lantas sama-sama asyik mencari buku. Salma memutari rak untuk menemukan yang dicarinya. Aku sendiri asyik membuka-buka beberapa buku sambil tetap berdiri di sisi rak.
''Mas Imran....''
Tiba-tiba suara Salma mengejutkanku. Ia sudah ada di sebelahku. Aku menoleh dan kami saling berpandangan beberapa saat. Ada pesona yang luar biasa di mata birunya yang bening bagai telaga. Sesaat jiwaku seperti berenang di kesejukannya. Kemudian seperti ada getaran lembut yang menyusup ke hatiku, mungkin juga hatinya, karena ia lantas menunduk tersipu.
Pertemuan kami cukup singkat, karena dia segera pamit untuk siap-siap pergi ke Jerman guna mendaftar kuliah di sana. Kemudian, ia mau ke London dan ke Afghanistan . Tapi, mengapa ke Afghanistan ? Bukankah di sana sedang terjadi pengeboman terhadap markas Alkaidah oleh AS. Ibukota Afghanistan, Kabul, juga terancam jadi sasaran bom. Perburuan terhadap Osamah ben Laden sedang digencarkan oleh AS beserta sekutunya. Juga kampanye anti-terorisme dengan menyudutkan kelompok-kelompok Islam garis keras.
Tiba-tiba aku mengkhawatirkan keselamatan gadis bercadar itu. Apalagi, pasca-tradegi menara kembar WTC, umat Islam dimusuhi di banyak negara kulit putih. Dengan pakaian seperti itu, Salma pasti gampang menjadi sasaran. Apalagi ia mau pergi ke Afghanistan, bisa-bisa kena tuduhan ada hubungan dengan jaringan Alkaidah. Tapi, bagaimana aku dapat mencegahnya, karena dia 'manusia bebas' yang memiliki pikiran dan rencana sendiri.Setelah kepergiannya, aku benar-benar merasa kehilangan. Ini agak aneh, karena aku belum lama mengenalnya dan baru dua kali sempat berbicara. Itupun hanya beberapa menit saja. Wajahnya yang ditutup cadar pun belum kukenal sepenuhnya. Yang kukenal baru mata beningnya yang kebiruan bagai telaga, suaranya yang lembut, kecerdasannya, dan misteri cahaya di kepalanya. Selebihnya, barulah ilusi kecantikan di balik cadarnya. Ah, mungkin aku telah jatuh cinta pada pandangan pertama, pikirku. Aku sangat merindukannya. Berhari-hari, bermingu-minggu, aku menunggu kabar kepulangannya.
Kekhawatiranku memuncak, ketika terjadi penangkapan terhadap beberapa demonstran anti-AS di halaman masjid Al Azhar -- dua di antaranya mahasiswi bercadar asal Indonesia. Aku khawatir Salma ada di antara mereka. Siapa tahu, ia pulang secara diam-diam dan langsung ikut demonstrasi. Apalagi, tampak pada layar televisi Mesir yang menyiarkannya, salah seorang gadis bercadar yang tertangkap itu sangat mirip Salma. Aku segera meluncur ke kantor polisi. Tapi, syukurlah, ternyata bukan.
Yang membuatku lebih khawatir adalah ketika terjadi penangkapan terhadap para demonstran anti-AS di London sehari kemudian, karena di televisi disebut-sebut bahwa beberapa di antaranya adalah 'penyusup' dari Afrika Utara. Aku yakin Salma ada di sana. Jika benar ia memang aktifis internasional, dengan gampang ia akan masuk ke suatu negara, bahkan dengan paspor palsu sekalipun.
"Tolong, Pak, mohon informasi, apakah di antara yang tertangkap tadi ada yang namanya Salma Audina, mahasiswi Al Azhar asal Bandung?" tanyaku pada salah seorang staf KBRI di London.
Aku ingin segera tahu apakah di antara yang ditangkap itu ada Salma. Tapi, tidak segera mendapat jawaban, karena pihak KBRI belum mendapat laporan resmi dan baru akan dicek ke kepolisian setempat. Syukurlah, tiga hari kemudian aku mendapat jawaban bahwa tidak ada nama Salma Audina pada daftar nama pengunjuk rasa yang ditangkap. Juga tidak ada penyusup dari Mesir, selain dua gadis berdarah Arab kelahiran London.
Tetapi, berita yang paling menakutkan tiba-tiba datang dari Afghanistan. Sebuah toko buku di Kabul, yang sedang ramai pengunjung, terkena ledakan bom, 11 orang tewas dan dua di antaranya gadis asal Indonesia. Dengan rasa was-was aku segera mencari nama gadis-gadis itu pada berita-berita di surat kabar Mesir, barangkali ada nama gadis bercadar itu di sana. Dan, betul, menurut kantor berita AFP yang dikutip beberapa surat kabar Mesir, salah satu korbannya adalah Miss Audina, seorang mahasiswi asal Indonesia, yang baru tiga hari tiba dari London. Pada foto yang terpampang, cadar Salma sudah terkoyak. Mata birunya terkatup di bawah garis jilbab yang hampir menyentuh alisnya. Ada bercak-bercak darah pada pipi, mulut dan hidungnya. "Innalillah..., Salma, kenapa kau begitu cepat pergi...," gumamku.
Aku merasa sangat terpukul membaca berita itu. Rasanya seperti ada yang hilang dari diriku: harapan. Ya, harapan untuk memilikinya. Sebagai sesama perantau yang mencari ilmu di negeri orang, tentu sudah sewajarnya aku merasa berduka. Apalagi ia mati konyol akibat teror bersenjata yang membabi buta. Aku tidak tahu, siapa yang harus dikutuk, AS yang memperlakukan dunia secara tidak adil, atau Osamah ben Laden yang memilih teror sebagai jalan penyelesaian karena ketidakberdayaannya melakukan perang secara terbuka.
Tapi, yang kurasakan saat itu benar-benar lebih dari sekadar berduka. Aku seperti merasa kehilangan seorang kekasih atau keluarga terdekat, dan hatiku terasa sangat tersayat. Segera kuhubungi imam masjid Al Azhar untuk melaksanakan shalat ghaib bagi Salma. Kawan-kawan mahasiswa dan alumni Al Azhar asal Indonesia pun kukumpulkan untuk melaksanakan shalat ghaib dan mengirim doa bagi arwahnya. Atas nama KBRI kukirim juga telegram bela sungkawa kepada keluarganya di Bandung.
Dan, karena telegram itu, tiba-tiba telepon di mejaku berdering. ''Assalamu 'alaikum. Bisa bicara dengan Pak Imran?''
''Ya, saya sendiri. Ini siapa?''
''Ini Salma.''
''Aduh Salma. Kawan-kawan mengira kamu tewas jadi korban ledakan di Kabul. Sebab, ada korban yang namanya Audina."
"Itu bukan Salma. Saya baik-baik saja di Bandung. Saya tak jadi ke Kabul . Minggu lalu saya dari London langsung ke Bandung .... Salam ya, untuk kawan-kawan. Saya jadi pindah kuliah ke Jerman. Besok pagi saya berangkat ke Berlin , tidak sempat mampir Kairo...!"
Aku merasa lega karena Salma masih hidup. Tapi tetap saja merasa kehilangan, karena kepindahan kuliahnya itu. Rasanya aku harus terbang ke Berlin juga untuk meraih cintanya. Sungguh, aku tidak ingin kehilangan purnama di balik cadarnya!
Kairo-Jakarta, 2002

Seorang Wanita dan Tukang Besi



Ketika si tukang besi sedang duduk di rumahnya melepas lelah setelah seharian bekerja, tiba-tiba terdengar pintu rumahnya diketuk orang. Si tukang besi keluar untuk melihatnya, pandangannya menubruk pada sesosok wanita cantik yang tak lain adalah tetangganya.
“Saudaraku, aku menderita kelaparan. Jika bukan karena tuntutan agamaku yang menyuruh untuk memelihara jiwa (hifdz al-Nafs), aku tidak akan datang ke rumahmu. Maukah engkau memberikan makanan padaku karena Allah?” Tutur wanita itu.
Ketika itu, memang tengah datang musim paceklik (kemarau). Sawah dan ladang mengering. Tanah pecah berbongkah-bongkah. Padang rumput menjadi tandus hingga hewan ternak menjadi kurus dan akhirnya mati. Makanan menjadi langka, maka tak pelak kelaparan melanda sebagian besar penduduk desa itu. Hanya sebagian kecil yang masih bisa bertahan.
“Tidakkah engkau tahu bahwa aku mencintaim? Akan kuberi engkau makanan, tetapi engkau harus melayaniku semalam,” kata tukang besi itu.
Si tukang besi memang jatuh hati kepada tetangganya itu. Dia merayunya dengan berbagai cara dan taktik, namun tak juga berhasil meluluhkan hati wanita itu.
“Lebih baik mati kelaparan daripada durhaka kepada Allah,” ujar wanita itu lagi sambil berlalu menuju rumahnya.
Setelah dua hari berlalu, wanita itu kembali mendatangi rumah si tukang besi dan mengatakan hal yang sama. Demikian pula jawaban si tukang besi. Ia akan memberi makanan asalkan wanita itu mau menyerahkan dirinya. Mendengar jawaban yang sama, wanita itupun kembali ke rumahnya.
Dua hari kemudian, wanita itu datang lagi ke rumah tukang besi itu dalam keadaan payah. Suaranya parau, matanya sayu, dan punggungnya membungkuk karena menahan lapar yang tiada tara. Ia kembali mengatakan hal serupa. Begitu pula jawaban si tukang besi, sama dengan yang sudah-sudah. Wanita itu kembali ke rumahnya dengan tangan kosong untuk kali ketiga.
Ketika itulah, Allah memberikan hidayah-Nya kepada si tukang besi. “Sungguh celaka aku ini, seorang wanita mulia datang kepadaku, dan aku terus berlaku dzalim kepadanya,” tutur tukang besi dalam hatinya. “Ya Allah aku bertaubat kepada-Mu dari perbuatanku dan aku tidak akan mengganggu wanita itu lagi selamanya.”
Si tukang besi itu bergegas mengambil makanan dan pergi ke rumah wanita itu. Diketuknya pintu rumah wanita itu. Tak lama berselang, kerekek…terlihat pintu terbuka dan muncullah sesosok wanita yang nampak kuyu. Melihat si tukang besi berdiri di depan pintu rumahnya, wanita itu bertanya, “Apa keperluanmu datang ke rumahku?”
“Aku bermaksud mengantarkan sedikit makanan yang aku punya. Jangan khawatir, aku memberinya karena Allah,” jawab si tukang besi itu.
“Ya Allah, jika benar apa yang dikatakannya, maka haramkanlah ia dari api di dunia dan akhirat,” tutur wanita itu seraya menengadahkan kedua tanganya ke langit.
Si tukang besi itu pulang ke rumahnya. Ia memasak makanan yang tersisa buat dirinya. Tiba-tiba secara tak sengaja bara api mengenai kakinya, namun kaki si tukang besi itu tidak terbakar. Bergegas ia menemui wanita itu lagi.
“Wanita yang mulia, Allah telah mengabulkan doamu,” ujar si tukang besi.
Seketika itu, wanita itu sujud syukur kepada Allah.
“Ya Allah engkau telah mewujudkan doaku, maka cabutlah nyawaku saat ini juga.” Terdengar suara lirih dari mulut wanita itu dalam sujudnya. Allah kembali mendengar doanya. Wanita itupun berpulang ke Rahmatullah dalam keadaan sujud.
Demikianlah kisah seorang wanita yang menjaga kehormatannya meskipun harus menahan rasa lapar yang tiada tara.

Setiap muslimah mestinya dapat mengambil i’tibar (pelajaran berharga) dari berbagai kisah wanita shalihah yang telah diuraikan di muka. Merekalah yang mestinya dijadikan suri tauladan dalam kehidupan keseharian, bukan para artis yang menawarkan gaya hidup hedonisme dan materialisme
Dikutip dari buku "Bidadari Dunia Potre Ideal Wanita Muslim", Muh. Syafi'i Al-Bantani

KATA KATA MUTIARA




Semakin Anda memahami lebih banyak tentang dunia di sekitar Anda, semakin bergairah dan penasaran terhadap kenyataan hidup dalam hidup Anda.

Gairah adalah salah satu elemen pokok yang meringankan upaya dan mengubah kegiatan-kegiatan yang biasa-biasa saja menjadi suatu pekerjaan yang dapat dinikmati.
Semakin besar “Mengapa” Anda akan semakin besar energi yang mendorong Anda untuk meraih sukses.
Mimpi tidak hanya membantu Anda berhadapan dengan kegagalan, tetapi mereka juga memotivasi Anda secara konstan.
Mimpi masa kini adalah kenyataan hari esok.
Anda bisa, jika Anda berpikir bisa, selama akal mengatakan bisa. Batasan apakah sesuatu masuk akal atau tidak, kita lihat saja orang lain, jika orang lain telah melakukannya atau telah mencapai impiannya, maka impian tersebut adalah masuk akal.
Menuliskan tujuan akan sangat membantu dalam melakukan sesuatu.
Apakah kita bisa untuk mengemban misi kita? Insya Allah kita bisa, karena Allah Mahatahu, Allah tahu sampai dimana potensi dan kemampuan kita. Jika kita tidak merasa mampu berarti kita belum benar-benar mengoptimalkan potensi kita.
Jika target obsesi itu baik, maka memiliki obsesi bukan hanya baik, tetapi harus. Karena motivasi dari sebuah obsesi sangat kuat.
Untuk menjadi sukses, Anda harus memutuskan dengan tepat apa yang Anda inginkan, tuliskan dan kemudian buatlah sebuah rencana untuk mencapainya.
Bisakah kita meraih sukses yang lebih besar lagi?
Merumuskan Visi dan Misi adalah salah satu bentuk dalam mengambil keputusan, bahkan pengambilan keputusan yang cukup fundamental. Visi dan Misi Anda akan menjiwai segala
gerak dan tindakan di masa datang.
Jangan takut dengan gagalnya meraih visi, kegagalan meraih visi sebenarnya bukan suatu kegagalan, tetapi merupakan keberhasilan yang Anda tempuh meski tidak sepenuhnya.Visi itulah yang akan menuntun perjalanan hidup Anda.
Menciptakan kebiasaan baru adalah salah satu dari kunci sukses. Jika anda ingin sukses Anda harus mulai menciptakan kebiasaan-kebiasaan yang akan membawa Anda kepada kesuksesan.
Jika Anda ingin menang— dalam bisnis, karir, pendidikan, olah raga, dsb— maka Anda harus memiliki kebiasaan-kebiasaan seorang pemenang pula.
Jika Anda ingin suatu kehidupan yang berbeda, buatlah keputusan yang berbeda juga.
Tengoklah kembali perjalanan Anda saat ini, akan menuju kemana? Apakah ke arah yang lebih baik, atau ke arah yang lebih buruk, atau tetap saja seperti saat ini? Tetapkanlah sebuah putusan dan jalanilah menuju konsekuensinya.
Potensial pilihan Anda begitu melimpah, keputusan Anda dapat saja merubah hidup Anda secara dramatis dalam waktu singkat.
Hanya satu motivasi yang ada, yaitu Allah. Adapun motivasi lainnya harus dalam rangka “karena dan/atau untuk” Allah.

Kamis, 27 Januari 2011

Cerita pendek Bassist TAFAKUR tentang Sejarah terbentuk TAFAKUR



Sudah Kurang Lebih Hampir Setahun Lebih Saya Menjadi Seorang Pesakitan,, Sekilas Terlihat Sehat Tp Pdhl Merasakan Suatu Kesaitan yg Mungkin Hnya Bisa Dilihat Oleh Kacamata Bathin.. Tepatnya Kurang Lebih 2 Tahun yg Lalu Sepulangnya dari Bdg Kondisi Saya Mulai Kritis, dan Divonis Mengidap Penyakit "Alergi Stadium Arcaduim" yg wktu itu Menyebabkan Penurunan Trombosit Yg dikarenakan Terlalu Tingginya Kadar Caffein Dlm Tubuh,,, Kekurangan Cairan Mineral dan Gaya Hidup yg menyimpang seperti malam Dijadikan Siang Dan Siang Dijadikan malam...

Sebulan Lamanya Saya Terbaring Lemah Merasakan Penderitaan dan Rasa Kesakitan, Tp itu Tidak membuat Saya lalu Patah Semangat Utk Tetap Membuat Sesuatu Terobosan Dalam bermusik.. Saat itu Terpikir oleh saya utk membuat Lagu Religi Yg Bereferensikan Dari Musik Luar,, Ditemani Ewink Leeming sbg Gitar, Keyboard sekaligus dipercayakan sbg Arranger Musik, Robby Bey Leeming Sbg Drum dan Designer, Dan Dede Yusuf Zein Sbg Vocalis (rekan saya Dulu Saat di Proyek Al-Hadad bersama Gita Semesta & Teguh Vagetoz).

Atas Kesepakatan kita Bersama Akhirnya Kita Ambil Referensi Dari salah satu Lagu Radio Head Dengan Lyrics Bertemakan Tentang Peringatan Azab Utk Umat Manusia Di Muka Bumi ini atas Segala Bencana yg Akhir2 Ini Seringkali terjadi Di Segala penjuru Dunia. Dan Akhirnya Jadilah Sbh Single Lagu Yg Berjudul Azab Sebuah Bencana.

Adapun Utk Memperkuat Barisan Dan Memperindah Suasana kami Merekrut Pemain Biola Dendy Violin dari Ndazon dan Ricky Violin Dari Gardenia.

Tak Terasa Proyek Ini Telah Berjalan Selama Kurun Waktu Setahun Lebih Dan Sudah Terkumpul 10 Materi lagu berikut 5 lagu Yg Di Translating Dari Maher Zein, Alhamdulillah Album Religi Special Ramadhan kmrn lancar Dibantu Oleh Rekan2 Tafakur yg lain Diantaranya Sdr.Akmal Di Acoustic, Sdr.Ramli Ijho Di Jimbe Dan Sdr.Asep Dikdik Di Keyboard Yg Sempat Ikut Mengisi Di Bbrp Event Tafakur kmrn.

Dan formasi tafakur sekarang :
Vocal : Dede Yusup Zain
Guitar : Ewink Leeming
Bass : Cep Intan
Drum : RObby Bey Maulana
Lead Violin : Dendy
Strings Violin : Ricky

lagu - lagu bisa di dengar dan di download disini